Senin, 09 Mei 2016

Metodologi Pembelajaran PAI (Pendidikan Agama Islam)



QUANTUM TEACHING

Kita semua mengetahui bahwasannya terdapat banyak sekali metode-metode yang dapat digunakan di dalam proses pembelajaran. Diantaranya adalah Metode Scientific Learning, Konstruktivistik Learning, Multiple Intelegen, Quantum Teaching, Kooperatif Learning, Mastery Learning, Active Learning, Acelerated Learning, Discovery Learning, Inquiry Learning, SEL (Social Emosional Learning), Spiritual Learning, Joiful Learning, PBL (Problem Best Learning), dan CTL (Contextual Teaching and Learning), serta SCL (Student Center Learning).
Dari sekian banyaknya metode-metode pembelajaran tersebut diatas, salah satunya adalah Quantum Teaching. Quantum Teaching menunjukkan kepada kita mengenai bagaimana cara untuk menjadi seorang guru yang baik. Quantum Teaching menguraikan cara-cara baru yang membuat proses belajar menjadi lebih mudah melalui pemaduan unsur seni dan pencapaian-pencapaian yang terarah. Quantum Teaching bersandar kepada sebuah asas dan memiliki beberapa prinsip. Quantum Teaching mengorkestrasi perancangan pengajaran yang dinamis, melalui Modalitas V-A-K, Kerangka Perancangan Quantum Teaching, dan Kecerdasan Berganda Bertemu SLIM-n-BIL. Memahami metode Quantum Teaching merupakan hal yang penting bagi seorang calon guru maupun seorang guru. Apabila seorang calon guru maupun seorang guru telah memahami metode ini, maka kemudian diharapkan untuk dapat menerapkannya pada proses pembelajaran. Karena dengan menggunakan metode Quantum Teaching ini, seorang guru akan mampu menggabungkan keistimewaan-keistimewaan belajar menuju bentuk perencanaan pengajaran yang akan melejitkan prestasi siswa.
Quantum adalah interaksi yang mengubah energi menjadi cahaya. Quantum Teaching dengan demikian adalah orkestrasi bermacam-macam interaksi yang ada di dalam dan di sekitar momen belajar. Interaksi-interaksi tersebut mencakup unsur-unsur untuk belajar efektif yang mempengaruhi kesuksesan siswa. Interaksi-interaksi tersebut mengubah kemampuan dan bakat alamiah siswa menjadi cahaya yang akan bermanfaat bagi mereka sendiri dan bagi orang lain. Quantum teaching merupakan penggubahan belajar yang meriah dengan segala nuansanya. Quantum Teaching menyertakan segala kaitan, interaksi, dan perbedaan yang memaksimalkan momen belajar. Quantum Teaching berfokus pada hubungan dinamis dalam lingkungan kelas, interaksi yang mendirikan landasan, dan kerangka untuk belajar. (Bobbi DePorter, 2003) Quantum Teaching berisi prinsip-prinsip sistem perancangan pengajaran yang efektif, efisien, dan progresif berikut metode penyajiannya untuk mendapatkan hasil belajar yang mengagumkan dengan waktu yang sedikit. (Sutrisno, 2005) Quantum Teaching merangkaikan yang paling baik dari yang terbaik menjadi sebuah paket multisensori, multikecerdasan, dan kompatibel dengan otak. Yang pada akhirnya akan melejitkan kemampuan guru untuk mengilhami dan kemampuan murid untuk berprestasi. Quantum Teaching merupakan sebuah pendekatan belajar yang segar, mengalir, praktis, dan mudah diterapkan. Quantum Teaching menawarkan cara-cara baru untuk memaksimalkan dampak usaha pengajaran melalui perkembangan hubungan, penggubahan belajar, dan penyampaian kurikulum. Quantum Teaching mencakup petunjuk spesifik untuk menciptakan lingkungan belajar yang efektif, merancang kurikulum, menyampaikan isi, dan memudahkan proses belajar. Ketika seorang guru telah mengetahui dan memahami metode Quantum Teaching ini, maka guru tersebut akan memperoleh cara-cara yang efektif untuk meningkatkan partisipasi dengan mengorkestrasi (menggubah) keadaan, meningkatkan motivasi dan minat dengan menerapkan kerangka rancangan yang dikenal dengan singkatan TANDUR, meningkatkan rasa kebersamaan dengan menggunakan Delapan Kunci Keunggulan, meningkatkan daya ingat dengan menggunakan SLIM-n-BIL, dan meningkatkan daya dengar peserta didik dengan mengikuti Prinsip-Prinsip Komunikasi Ampuh, serta dapat meningkatkan kehalusan transisi dengan MPT.

Quantum Teaching dimulai di SuperCamp, sebuah program percepatan Quantum Learning yang ditawarkan Learning Forum, yaitu sebuah perusahaan pendidikan Internasional yang menekankan perkembangan keterampilan akademis dan keterampilan pribadi. (DePorter, 1992)
Dalam program menginap selama dua belas hari, peserta didik mulai usia sembilan tahun sampai dua puluh empat tahun memperoleh kiat-kiat yang dapat membantu mereka dalam mencatat, menghafal, membaca cepat, menulis, berkreativitas, dan berkomunikasi, serta membina hubungan. Kiat-kiat yang mereka peroleh tersebut dapat meningkatkan kemampuan mereka dalam menguasai segala hal yang ada di dalam kehidupan mereka. Sebuah hasil menunjukkan bahwa peserta didik yang mengikuti SuperCamp mendapatkan nilai yang lebih baik, lebih banyak berpartisipasi, dan merasa lebih bangga akan diri mereka sendiri. (VosGroenendal, 1991)
Quantum Teaching adalah badan ilmu pengetahuan dan metodologi yang digunakan dalam rancangan, penyajian, dan fasilitasi SuperCamp. Diciptakan berdasarkan teori-teori pendidikan seperti Accelerated Learning (Lozanov), Multiple Intellegences (Gardner), Neuro-Linguistic Programming (Grinder dan Bandler), Experiential Learning (Hahn), Socratic Inquiry, dan Cooperative Learning (Johnson dan Johnson), serta Elements of Effective Instruction (Hunter). Metode pembelajaran Quantum Learning ini dibangun berdasarkan pengalaman delapan belas tahun dan penelitian terhadap 25.000 siswa serta sinergi pendapat dari ratusan guru.
Quantum Teaching bersandar kepada sebuah konsep, yaitu: “Bawalah Dunia Mereka ke Dunia Kita, dan Antarkan Dunia Kita ke Dunia Mereka”. Itulah yang menjadi asas utama, alasan dasar dibalik segala strategi, model, dan keyakinan Quantum Teaching. Setiap interaksi dengan siswa, setiap rancangan kurikulum, dan setiap metode instruksional dibangun diatas prinsip “Bawalah Dunia Mereka ke Dunia Kita, dan Antarkan Dunia Kita ke Dunia Mereka”. Maksud dari prinsip tersebut adalah mengingatkan kepada kita betapa pentingnya memasuki dunia peserta didik sebagai langkah pertama. Untuk mendapatkan hak mengajar, seorang guru harus membangun sebuah jembatan untuk memasuki dunia peserta didik. Sertifikat ataupun dokumen yang dimiliki oleh seorang guru hanyalah menandakan bahwa guru tersebut memiliki wewenang untuk mengajar, hal ini tidak berarti bahwa guru tersebut memiliki hak untuk mengajar. Mengajar adalah hak yang harus diraih dan diberikan oleh peserta didik, bukan diberikan oleh Departemen Pendidikan. Belajar berurusan dengan orang secara keseluruhan, maka hak untuk memudahkan belajar tersebut harus diberikan oleh peserta didik dan diraih oleh guru. Mengapa seorang guru harus memasuki dunia peserta didik terlebih dahulu? Karena tindakan tersebut akan memberikan izin kepada seorang guru untuk memimpin, menuntun, dan memudahkan perjalanan peserta didik menuju kesadaran dan ilmu pengetahuan yang lebih luas. Bagaimana caranya? Caranya adalah dengan mengaitkan apa yang kita ajarkan dengan sebuah peristiwa, pikiran, atau perasaan yang diperoleh dari kehidupan rumah, sosial, atletik, musik, seni, rekreasi, atau akademis mereka. Setelah kaitan itu terbentuk, kita akan dapat membawa mereka ke dalam dunia kita dan memberikan pemahaman kepada mereka mengenai isi dunia tersebut. Disinilah kosa kata baru, model mental, rumus, dan lain-lain dibeberkan. Seraya menjelajahi kaitan dan interaksi, baik peserta didik maupun guru mendapatkan pemahaman baru. Dan “Dunia Kita” diperluas, tidak hanya para peserta didik akan tetapi juga guru. Akhirnya, dengan pengertian yang lebih luas dan dengan penguasaan lebih mendalam ini para peserta didik dapat membawa apa yang mereka pelajari ke dalam dunia mereka dan menerapkannya pada situasi yang baru. “Bawalah Dunia Mereka ke Dunia Kita, dan Antarkan Dunia Kita ke Dunia Mereka”. Begitulah dinamika manusia, dan seperti itulah asas utama Quantum Teaching.
Quantum Teaching memiliki beberapa prinsip, diantaranya adalah:
1.      Segalanya Berbicara
Dari sebuah kertas yang dibagikan kepada peserta didik hingga sebuah rancangan pelajaran yang dirancang oleh seorang guru, dari lingkungan kelas bahkan hingga bahasa tubuh seorang guru, semuanya mengirim pesan tentang belajar.
Peserta didik menangkap pandangan seorang guru jauh lebih cepat dan lebih akurat dari pada menangkap apa yang akan diajarkan. Seorang guru harus berlatih untuk mengubah pandangannya dengan membayangkan bahwa angka 10 (seperti dalam skala 1 sampai 10) tercetak dalam setiap kening peserta didik. Seorang guru harus berlatih untuk mengubah pandangannya dengan membayangkan bahwa semua peserta didiknya adalah anak-anak yang luar biasa. Diantara banyak guru yang bekerja, terdapat sebuah pola interaksi antara guru dan peserta didik yang menarik namun meresahkan. Dengan peserta didik yang memiliki kemampuan tinggi, seorang guru cenderung banyak tersenyum, lebih banyak mengobrol dengan akrab, berbicara dengan cara yang lebih intelektual dan penuh humor, menggunakan kosakata kompleks, dan bertindak lebih matang. Sedangkan dengan peserta didik yang memiliki kemampuan rendah, seorang guru cenderung berbicara lebih keras dan lebih lambat (seolah-olah peserta didik tidak dapat mendengar) dan berinteraksi pada tingkat lebih instruksional dan otoriter.
2.      Segalanya Bertujuan
Semua yang terjadi dalam penggubahan seorang guru, semuanya memiliki sebuah tujuan.

3.      Pengalaman Sebelum Pemberian Nama
Otak manusia berkembang pesat dengan adanya rangsangan kompleks yang akan menggerakkan rasa ingin tahu. Oleh sebab itu, proses belajar yang paling baik adalah terjadi ketika peserta didik telah mengalami informasi sebelum mereka memperoleh nama untuk apa yang mereka pelajari.
4.      Akui Setiap Usaha
Belajar mengandung resiko, belajar berarti melangkah keluar dari kenyamanan. Pada saat peserta didik mengambil langkah ini, mereka patut untuk mendapatkan sebuah pengakuan atas kecakapan dan kepercayaan diri mereka.
Semua orang senang diakui. Menerima pengakuan membuat semua orang merasa bangga, percaya diri, dan bahagia. Sebuah penelitian mendukung konsep bahwa kemampuan peserta didik meningkat karena pengakuan guru. Untuk mendapatkan hasil terbaik dengan peserta didik, seorang guru harus mengakui setiap usaha yang dilakukan oleh peserta didiknya.

5.      Jika Layak Dipelajari, maka Layak pula Dirayakan!
Perayaan adalah sarapan bagi pelajar yang juara, perayaan memberikan umpan balik mengenai kemajuan peserta didik dan meningkatkan asosiasi emosi positif terhadap belajar. (Bobbi DePorter, 2003) Seorang guru layak menanamkan bibit kesuksesan dan senantiasa menghubungkan belajar dengan sebuah perayaan. Perayaan membangun keinginan untuk sukses. Beberapa bentuk perayaan yang menyenangkan diantaranya adalah:
a.      Tepuk Tangan
Salah satu variasi tepuk tangan misalnya adalah bertepuk tangan membentuk lingkaran.
b.      Hore! Hore! Hore!
Jika diberi aba-aba, semua peserta didik melompat berdiri dan berteriak senyaring mungkin, “Hore! Hore! Hore!” sambil mengayunkan tangan ke depan dan ke atas. Cara ini akan lebih mengasyikkan apabila dilakukan secara bergelombang ke seluruh ruangan.
c.       Wusssss
Jika diberi aba-aba, semua peserta didik bertepuk tangan tiga kali secara serempak, lalu mengirimkan segenap energi positif kepada orang yang dituju. Cara melakukannya adalah setelah bertepuk, tangan mendorong ke arah orang tersebut sambil berteriak “Wusssss”.
d.      Jentikan Jari
Jika memerlukan pengakuan yang tenang, bisa menggunakan jentikan jari berkesinambungan.
e.       Poster Umum
Mengakui individu atau seluruh kelas. Misalnya, “Kelas 3
Ngetop!”
f.       Catatan Pribadi
Menyampaikan secara perseorangan kepada peserta didik untuk mengakui usaha keras, sumbangan pada kelas, perilaku atau tindakan yang baik hati.
g.      Persengkokolan
Mengakui seseorang secara tidak terduga. Misalnya, seluruh kelas dapat bersekongkol untuk mengakui kelas lain dengan cara memasang poster yang positif.
Model Quantum Teaching hampir sama dengan sebuah simfoni. Jika kita melihat sebuah simfoni, akan ada banyak unsur yang menjadi faktor pengalaman musik kita. Unsur-unsur tersebut dapat kita bagi menjadi dua kategori, yaitu:
1.      Context (Konteks)
Konteks adalah latar untuk pengalaman kita. Konteks merupakan keakraban ruang orkestra itu sendiri (lingkungan), semangat konduktor dan para pemainnya (suasana), keseimbangan instrumen dan musisi dalam bekerjasama (landasan), dan interpretasi sang maestro terhadap lembaran musik (rancangan). Unsur-unsur tersebut berpadu dan kemudian menciptakan pengalaman bermusik yang menyeluruh.
Dalam menggubah segala detail, seorang guru hendaknya menyiapkan konteks tempat peserta didiknya belajar. Seorang guru pastinya menghendaki konteks tersebut positif, mendukung, dan mengundang selera. Seorang guru pastinya ingin komunitas belajarnya menjadi tempat yang meningkatkan kesadaran, daya dengar, partisipasi, umpan balik, dan pertumbuhan. Disinilah tempat emosi dihargai. Sebuah lingkungan dimana peserta didik dapat beranjak ke keadaan yang prima, mau bertanggungjawab, dan dapat saling mempercayai. Sebuah tempat tanpa batas untuk mencapai apapun.
Kelas akan dapat menjadi sebuah rumah untuk peserta didik yang tidak hanya terbuka terhadap umpan balik, namun juga tempat pencarian. Tempat peserta didik belajar mengakui dan mendukung orang lain, tempat mereka mengalami kegembiraan dan kepuasan, tempat mereka memberi dan menerima, serta tempat mereka belajar dan tumbuh.
Konteks menata panggung belajar mempunyai empat aspek, yaitu:
a.      Suasana Kelas
Suasana kelas mencakup bahasa yang dipilih, cara menjalin rasa simpati dengan siswa, dan sikap seorang guru terhadap sekolah dan belajar. Suasana yang penuh dengan kegembiraan juga akan membawa kegembiraan dalam belajar.
b.      Landasan
Landasan adalah kerangka kerja (tujuan, keyakinan, kesepakatan, kebijakan, prosedur, dan aturan bersama) yang memberikan sebuah pedoman kepada seorang guru dan peserta didiknya untuk bekerja dalam komunitas belajar.
c.       Lingkungan
Cara menata ruang kelas (pencahayaan, warna, pengaturan meja dan kursi, tanaman, musik) dan semua yang mendukung proses belajar.
d.      Rancangan
Rancangan adalah penciptaan terarah unsur-unsur penting yang bisa menumbuhkan minat peserta didik, mendalami makna, dan memperbaiki proses tukar-menukar informasi.
Jika keempat aspek tersebut diatas ditata dengan cermat, maka suatu keajaiban akan terjadi. Konteks itu sendiri benar-benar akan dapat menciptakan rasa saling memiliki yang kemudian akan mampu meningkatkan rasa memiliki tersebut dan penghargaan. Kelas akan menjadi komunitas belajar, tempat yang dituju oleh para peserta didik dengan senang hati dan bukan dengan keterpaksaan.
2.      Content (Isi)
Isi berbeda dengan konteks, namun sama pentingnya dengan konteks. Lembaran musik adalah sebagai sebuah isi, not-not yang nyata pada sebuah halaman. Salah satu unsur isi adalah bagaimana tiap frase musik dimainkan (penyajian). Isi juga meliputi fasilitasi ahli sang maestro terhadap orkestra, memanfaatkan bakat setiap pemain musik, dan potensi setiap instrumen.
Keajaiban pengalaman menjadi terbuka karena konteksnya tepat, sehingga membuat musik menjadi hidup. Saat seorang guru menggubah kesuksesan peserta didiknya, unsur-unsur yang sama (suasana, lingkungan, landasan, rancangan, penyajian, dan fasilitasi) harus tersusun dengan baik.
Mengorkestrasi Perancangan Pengajaran yang Dinamis

1.      Modalitas V-A-K
Meskipun kebanyakan orang memiliki akses ke ketiga modalitas (visual, auditorial, dan kinestetik), namun hampir semua orang cenderung pada salah satu modalitas belajar. (Bandler dan Grinder, 1981) Orang tidak hanya cenderung pada satu modalitas saja, akan tetapi mereka juga memanfaatkan kombinasi modalitas tertentu yang dapat memberi mereka bakat dan kekurangan alami tertentu. (Markova, 1992)
a.      Visual
Modalitas ini mengakses citra visual yang diciptakan maupun diingat. Warna, hubungan ruang, potret mental, dan gambar lebih ditonjolkan dalam modalitas ini. Seseorang yang visual, ia memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
-          Teratur, memperhatikan segala sesuatu, menjaga penampilan.
-          Mengingat dengan gambar, lebih suka membaca dari pada dibacakan.
-          Membutuhkan gambaran dan tujuan menyeluruh serta menangkap secara detail, mengingat apa yang dilihat.

b.      Auditorial
Modalitas ini mengakses segala jenis bunyi dan kata, diciptakan maupun diingat. Musik, nada, irama, rima, dialog internal, dan suara lebih ditonjolkan dalam modalitas ini. Seseorang yang auditorial, ia memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
-          Perhatiannya mudah terpecah.
-          Berbicara dengan pola berirama.
-          Belajar dengan cara mendengarkan, menggerakkan bibir atau bersuara saat membaca.
-          Berdialog secara internal dan eksternal.

c.       Kinestetik
Modalitas ini mengakses segala jenis gerak dan emosi, diciptakan maupun diingat. Gerakan, koordinasi, irama, tanggapan emosional, dan kenyamanan fisik lebih ditonjolkan dalam modalitas ini. Seseorang yang kinestetik, ia memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
-          Menyentuh orang dan berdiri berdekatan, banyak bergerak.
-          Belajar dengan melakukan, menunjuk tulisan saat membaca, menanggapi secara fisik.
-          Mengingat sambil berjalan dan melihat.
                                        
2.      Kerangka Perancangan Quantum Teaching TANDUR
Apapun mata pelajarannya, tingkat kelasnya, pendengarnya, kerangka ini menjamin peserta didik menjadi tertarik dan berminat pada setiap pelajaran. Kerangka ini memastikan bahwa peserta didik mengalami pembelajaran, berlatih, menjadikan isi pelajaran nyata bagi mereka sendiri, dan mencapai sukses.
a.      Tumbuhkan
Tumbuhkan minat belajar peserta didik dengan memuaskan rasa ingin tahu peserta didik dalam bentuk apakah manfaat pelajaran tersebut bagi peserta didik dengan menggunakan rumus “Apakah Manfaatnya BagiKu (AMBAK)”. Sebelum memberikan materi pelajaran kepada peserta didik, seorang guru terlebih dahulu menjelaskan kepada peserta didik mengenai manfaat mempelajari materi tersebut. Tujuannya adalah agar peserta didik bertambah keingintahuannya terhadap materi tersebut dan akan memperhatikan apa yang disampaikan oleh guru. Tahap ini merupakan tahap menumbuhkan minat peserta didik terhadap pembelajaran yang akan dilakukan. Melalui tahap ini, seorang guru berusaha mengikutsertakan peserta didik dalam proses belajar. Motivasi yang kuat membuat peserta didik tertarik untuk mengikuti seluruh rangkaian pembelajaran. Tahap ini bisa dilakukan untuk menggali permasalahan terkait dengan materi yang akan dipelajari, menampilkan suatu gambaran atau benda nyata, dan cerita pendek atau video.
b.      Alami
Alami merupakan tahap ketika seorang guru menciptakan atau mendatangkan sebuah pengalaman yang dapat dimengerti oleh semua peserta didik. Tahap ini memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengembangkan keingintahuan peserta didik. Tahap alami ini bisa dilakukan pula dengan menggunakan pengamatan.


c.       Namai
Setelah peserta didik melalui sebuah pengalaman belajar pada kompetensi dasar tertentu, seorang guru mengajaknya untuk menulis di kertas dan menamai apa saja yang mereka peroleh. Apakah informasi tersebut berupa gambar, tempat, dan sebagainya. Kemudian guru tersebut mengajak peserta didik untuk menempelkan hasilnya di papan tulis. Tahap menamai merupakan tahap dimana seorang guru memberikan kata kunci, konsep, model, rumus, dan strategi atas pengalaman yang telah diperoleh peserta didik. Pada tahap ini peserta didik berusaha untuk menemukan suatu konsep atas pengalaman yang telah dilewati dengan bantuan seorang guru. Tahap penamaan ini memacu struktur kognitif peserta didik untuk memberikan identitas, menguatkan, dan mendefinisikan atas apa yang telah dialaminya. Proses penamaan ini dibangun diatas pengetahuan awal dan keingintahuan peserta didik saat itu. Tahap penamaan ini merupakan saat-saat yang tepat untuk mengajarkan suatu konsep kepada peserta didik. Pemberian nama setelah adanya sebuah pengalaman akan menjadi sesuatu yang lebih bermakna dan berkesan bagi peserta didik. Untuk membantu dalam penamaan ini, seorang guru dapat menggunakan susunan gambar, warna, alat bantu, kertas tulis, dan poster.
d.      Demonstrasikan
Setelah peserta didik mengalami belajar akan sesuatu, seorang guru memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mendemonstrasikan kemampuannya. Melalui pengalaman belajar, peserta didik akan mengetahui dan mengerti bahwa mereka memiliki pengetahuan dan informasi yang cukup memadai. Tahap demonstrasi ini memberikan kesempatan untuk menerapkan pengetahuan ke dalam pembelajaran yang lain dan ke dalam kehidupan peserta didik. Tahap demonstrasi ini menyediakan kesempatan kepada peserta didik untuk menunjuk apa yang mereka ketahui. Dan pada tahap demonstrasi ini dapat dilakukan dengan penyajian di depan kelas, permainan, menjawab pertanyaan, dan menunjukkan hasil pekerjaan.


e.       Ulangi
Pengulangan dan post test memperkuat daya ingat dan dapat menumbuhkan rasa “Aku tahu bahwa aku memang tahu ini”. Pengulangan akan memperkuat koneksi saraf, sehingga menguatkan struktur kognitif peserta didik. Semakin sering dilakukan pengulangan, maka pengetahuan akan semakin mendalam. Hal ini dapat dilakukan dengan cara menegaskan kembali pokok materi pelajaran ataupun memberi kesempatan kepada peserta didik untuk mengulang pelajaran dengan temannya yang lain maupun melalui latihan soal.
f.       Rayakan
Pengakuan untuk penyelesaian, partisipasi, dan pemerolehan keterampilan serta ilmu pengetahuan dapat dilakukan dengan cara memberikan tepuk tangan, bernyanyi bersama, maupun pemberian hadiah.
3.      Kecerdasan Berganda Bertemu SLIM-n-BIL

a.      Spasial-Visual
Spasial-Visual maksudnya adalah berfikir dalam citra dan gambar. Melibatkan kemampuan untuk memahami hubungan ruang dan citra mental, serta secara akurat mengerti dunia visual. Menggambar, mensketsa, mencorat-coret, visualisasi, citra, grafik, desain, tabel, seni, video, film, dan ilustrasi.
b.      Linguistik-Verbal
Linguistik-Verbal maksudnya adalah berfikir dalam kata-kata. Mencakup kemahiran dalam berbahasa untuk berbicara, menulis, membaca, menghubungkan, dan menafsirkan. Kata-kata, berbicara, menulis, bercerita, mendengarkan, buku, kaset, dialog, diskusi, puisi, lirik, mengeja, bahasa asing, surat, email, pidato, makalah, dan esai.
c.       Interpersonal
Interpersonal maksudnya adalah berfikir lewat berkomunikasi dengan orang lain. Hal ini mengacu kepada keterampilan manusia, sehingga dengan mudah dapat membaca, berkomunikasi, dan berinteraksi dengan orang lain. Memimpin, mengorganisasi, berinteraksi, berbagi, menyayangi, berbicara, sosialisasi, manipulasi, menjadi pendamai, permainan kelompok, klub, teman-teman, dan kelompok kerjasama.
d.      Musikal-Ritmik
Musikal-Ritmik maksudnya adalah berfikir dalam irama dan melodi. Gardner berkata, “Ada beberapa peran yang dapat diambil oleh individu-individu yang cenderung musikal, dari komposer avant-garde yang berusaha menciptakan idiom baru hingga pendengar yang belum berpengalaman, yang mencoba memahami sajak anak-anak”. (Gardner, 1983)
e.       Naturalis
Naturalis maksudnya adalah berfikir dalam acuan alam, yang merupakan pendatang baru dalam kecerdasan Gardner. Kecerdasan ini menyangkut pertalian seseorang dengan alam, yang dapat melihat hubungan dan pola dalam dunia alamiah, mengidentifikasi dan berinteraksi dengan proses alam. Jalan-jalan di alam terbuka, berinteraksi dengan binatang, pengkategorian, menatap bintang, meramal cuaca, simulasi, dan penemuan.
f.       Badan-Kinestetik
Badan-Kinestetik maksudnya adalah berfikir melalui sensasi dan gerakan fisik. Merupakan kemampuan untuk mengendalikan dan menggunakan badan fisik dengan mudah dan cekatan. Menari, berlari, melompat, menyentuh, menciptakan, mencoba, mensimulasikan, merakit atau membongkar, bermain drama, permainan, dan indra peraba.
g.      Intrapersonal
Intrapersonal maksudnya adalah berfikir secara reflektif. Hal ini mengacu pada kesadaran reflektif mengenai perasaan dan proses pemikiran diri sendiri. Berfikir, meditasi, bermimpi, berdiam diri, mencanangkan tujuan, refleksi, merenung, membuat jurnal, menilai diri sendiri, waktu menyendiri, proyek yang dirintis sendiri, menulis, dan introspeksi diri.
h.      Logis-Matematis
Logis-Matematis maksudnya adalah berfikir dengan penalaran. Melibatkan pemecahan masalah secara logis dan ilmiah serta kemampuan matematis. Bereksperimen, bertanya, menghitung, logika deduktif dan induktif, mengorganisasikan, fakta, teka-teki, dan skenario.
Dengan memasukkan Kecerdasan Berganda ke dalam isi dan perancangan pengajaran, seorang guru membantu peserta didik secara otomatis mendapatkan lebih banyak makna dan rangsangan otak dalam proses belajar mereka, sekaligus memberi mereka lebih banyak variasi dan kesenangan, serta mengembangkan dan memperkuat kecerdasan mereka. Namun untuk melakukan hal ini, seorang guru harus melangkah keluar dari zona nyamannya dalam mengajar dan merancang pengajaran.
Dalam metode pembelajaran Quantum Teaching ini terdapat Stasiun Cerdas Quantum Teaching. Stasiun Cerdas Quantum Teaching merupakan stasiun-stasiun untuk jenis kecerdasan yang berbeda-beda, yang merupakan salah satu cara untuk menciptakan latihan silang. Stasiun-stasiun tersebut seharusnya ditempatkan di sekeliling kelas untuk setiap unsur Kecerdasan Berganda. Peserta didik mengunjungi stasiun-stasiun tersebut untuk mengasah setiap bagian kecerdasannya selama waktu tertentu. Hal ini dapat dilakukan secara berkelompok maupun perseorangan, di dalam maupun diluar jam pelajaran. Stasiun-stasiun tersebut dapat berupa pengalaman mentah dari kecerdasan yang menjadi fokus, seperti:
-          Spasial-Visual – “Pictionary” (permainan menebak gambar).
-          Linguistik-Verbal – “Scattergories” (permainan mencari kata).
-          Interpersonal – Kegiatan kelompok.
-          Musikal-Ritmik – Lagu atau rap.
-          Naturalis – Kegiatan di alam.
-          Badan-Kinestetik – Tarian atau kegiatan.
-          Intrapersonal – Refleksi.
-          Logis-Matematis – Teka-teki logika.

DAFTAR PUSTAKA

Bobbi DePorter, dkk., Quantum Teaching (Mempraktekkan Quantum Learning di Ruang-Ruang Kelas), (Bandung : PT. Mizan Pustaka, 2003)
Bobbi DePorter, Mike Hernacki, Quantum Learning (Membiasakan Belajar Nyaman dan Menyenangkan), (Bandung : Penerbit Kaifa, 1999)
Fuad bin Abdul Aziz Al-Syalhub, Panduan Praktis bagi Para Pendidik_Quantum Teaching (38 Langkah Belajar Mengajar EQ Cara Nabi SAW), (Jakarta : Zikrul Hakim, 2005)
Sutrisno, Revolusi Pendidikan di Indonesia, (Yogyakarta : Ar-Ruz, 2005)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar