QUANTUM TEACHING
Kita semua
mengetahui bahwasannya terdapat banyak sekali metode-metode yang dapat digunakan
di dalam proses pembelajaran. Diantaranya adalah Metode Scientific Learning, Konstruktivistik
Learning, Multiple Intelegen, Quantum Teaching, Kooperatif Learning,
Mastery Learning, Active Learning, Acelerated Learning, Discovery Learning,
Inquiry Learning, SEL (Social Emosional Learning), Spiritual Learning, Joiful
Learning, PBL (Problem Best Learning), dan CTL (Contextual Teaching and
Learning), serta SCL (Student Center Learning).
Dari sekian
banyaknya metode-metode pembelajaran tersebut diatas, salah satunya adalah Quantum
Teaching. Quantum Teaching menunjukkan kepada kita mengenai bagaimana cara
untuk menjadi seorang guru yang baik. Quantum Teaching menguraikan cara-cara
baru yang membuat proses belajar menjadi lebih mudah melalui pemaduan unsur
seni dan pencapaian-pencapaian yang terarah. Quantum Teaching bersandar kepada
sebuah asas dan memiliki beberapa prinsip. Quantum Teaching mengorkestrasi
perancangan pengajaran yang dinamis, melalui Modalitas V-A-K, Kerangka
Perancangan Quantum Teaching, dan Kecerdasan Berganda Bertemu SLIM-n-BIL.
Memahami metode Quantum Teaching merupakan hal yang penting bagi seorang
calon guru maupun seorang guru. Apabila seorang calon guru maupun seorang guru
telah memahami metode ini, maka kemudian diharapkan untuk dapat menerapkannya
pada proses pembelajaran. Karena dengan menggunakan metode Quantum Teaching ini,
seorang guru akan mampu menggabungkan keistimewaan-keistimewaan belajar menuju
bentuk perencanaan pengajaran yang akan melejitkan prestasi siswa.
Quantum adalah
interaksi yang mengubah energi menjadi cahaya. Quantum Teaching dengan demikian
adalah orkestrasi bermacam-macam interaksi yang ada di dalam dan di sekitar
momen belajar. Interaksi-interaksi tersebut mencakup unsur-unsur untuk belajar
efektif yang mempengaruhi kesuksesan siswa. Interaksi-interaksi tersebut
mengubah kemampuan dan bakat alamiah siswa menjadi cahaya yang akan bermanfaat
bagi mereka sendiri dan bagi orang lain. Quantum teaching merupakan penggubahan
belajar yang meriah dengan segala nuansanya. Quantum Teaching menyertakan
segala kaitan, interaksi, dan perbedaan yang memaksimalkan momen belajar.
Quantum Teaching berfokus pada hubungan dinamis dalam lingkungan kelas,
interaksi yang mendirikan landasan, dan kerangka untuk belajar. (Bobbi
DePorter, 2003) Quantum Teaching berisi prinsip-prinsip sistem perancangan
pengajaran yang efektif, efisien, dan progresif berikut metode penyajiannya
untuk mendapatkan hasil belajar yang mengagumkan dengan waktu yang sedikit.
(Sutrisno, 2005) Quantum Teaching merangkaikan yang paling baik dari yang
terbaik menjadi sebuah paket multisensori, multikecerdasan, dan kompatibel
dengan otak. Yang pada akhirnya akan melejitkan kemampuan guru untuk mengilhami
dan kemampuan murid untuk berprestasi. Quantum Teaching merupakan sebuah
pendekatan belajar yang segar, mengalir, praktis, dan mudah diterapkan. Quantum
Teaching menawarkan cara-cara baru untuk memaksimalkan dampak usaha pengajaran
melalui perkembangan hubungan, penggubahan belajar, dan penyampaian kurikulum.
Quantum Teaching mencakup petunjuk spesifik untuk menciptakan lingkungan
belajar yang efektif, merancang kurikulum, menyampaikan isi, dan memudahkan
proses belajar. Ketika seorang guru telah mengetahui dan memahami metode
Quantum Teaching ini, maka guru tersebut akan memperoleh cara-cara yang efektif
untuk meningkatkan partisipasi dengan mengorkestrasi (menggubah) keadaan,
meningkatkan motivasi dan minat dengan menerapkan kerangka rancangan yang
dikenal dengan singkatan TANDUR, meningkatkan rasa kebersamaan dengan
menggunakan Delapan Kunci Keunggulan, meningkatkan daya ingat dengan
menggunakan SLIM-n-BIL, dan meningkatkan daya dengar peserta didik dengan
mengikuti Prinsip-Prinsip Komunikasi Ampuh, serta dapat meningkatkan kehalusan
transisi dengan MPT.
Quantum
Teaching dimulai di SuperCamp, sebuah program percepatan Quantum Learning yang
ditawarkan Learning Forum, yaitu sebuah perusahaan pendidikan Internasional
yang menekankan perkembangan keterampilan akademis dan keterampilan pribadi.
(DePorter, 1992)
Dalam program
menginap selama dua belas hari, peserta didik mulai usia sembilan tahun sampai
dua puluh empat tahun memperoleh kiat-kiat yang dapat membantu mereka dalam
mencatat, menghafal, membaca cepat, menulis, berkreativitas, dan berkomunikasi,
serta membina hubungan. Kiat-kiat yang mereka peroleh tersebut dapat
meningkatkan kemampuan mereka dalam menguasai segala hal yang ada di dalam
kehidupan mereka. Sebuah hasil menunjukkan bahwa peserta didik yang mengikuti
SuperCamp mendapatkan nilai yang lebih baik, lebih banyak berpartisipasi, dan
merasa lebih bangga akan diri mereka sendiri. (VosGroenendal, 1991)
Quantum
Teaching adalah badan ilmu pengetahuan dan metodologi yang digunakan dalam
rancangan, penyajian, dan fasilitasi SuperCamp. Diciptakan berdasarkan teori-teori
pendidikan seperti Accelerated Learning (Lozanov), Multiple Intellegences
(Gardner), Neuro-Linguistic Programming (Grinder dan Bandler), Experiential
Learning (Hahn), Socratic Inquiry, dan Cooperative Learning (Johnson dan
Johnson), serta Elements of Effective Instruction (Hunter). Metode pembelajaran
Quantum Learning ini dibangun berdasarkan pengalaman delapan belas tahun dan
penelitian terhadap 25.000 siswa serta sinergi pendapat dari ratusan guru.
Quantum
Teaching bersandar kepada sebuah konsep, yaitu: “Bawalah Dunia Mereka ke
Dunia Kita, dan Antarkan Dunia Kita ke Dunia Mereka”. Itulah yang
menjadi asas utama, alasan dasar dibalik segala strategi, model, dan keyakinan
Quantum Teaching. Setiap interaksi dengan siswa, setiap rancangan kurikulum,
dan setiap metode instruksional dibangun diatas prinsip “Bawalah Dunia
Mereka ke Dunia Kita, dan Antarkan Dunia Kita ke Dunia Mereka”. Maksud
dari prinsip tersebut adalah mengingatkan kepada kita betapa pentingnya
memasuki dunia peserta didik sebagai langkah pertama. Untuk mendapatkan hak
mengajar, seorang guru harus membangun sebuah jembatan untuk memasuki dunia
peserta didik. Sertifikat ataupun dokumen yang dimiliki oleh seorang guru
hanyalah menandakan bahwa guru tersebut memiliki wewenang untuk mengajar, hal
ini tidak berarti bahwa guru tersebut memiliki hak untuk mengajar. Mengajar
adalah hak yang harus diraih dan diberikan oleh peserta didik, bukan diberikan
oleh Departemen Pendidikan. Belajar berurusan dengan orang secara keseluruhan,
maka hak untuk memudahkan belajar tersebut harus diberikan oleh peserta didik
dan diraih oleh guru. Mengapa seorang guru harus memasuki dunia peserta didik
terlebih dahulu? Karena tindakan tersebut akan memberikan izin kepada seorang
guru untuk memimpin, menuntun, dan memudahkan perjalanan peserta didik menuju
kesadaran dan ilmu pengetahuan yang lebih luas. Bagaimana caranya? Caranya
adalah dengan mengaitkan apa yang kita ajarkan dengan sebuah peristiwa, pikiran,
atau perasaan yang diperoleh dari kehidupan rumah, sosial, atletik, musik,
seni, rekreasi, atau akademis mereka. Setelah kaitan itu terbentuk, kita akan
dapat membawa mereka ke dalam dunia kita dan memberikan pemahaman kepada mereka
mengenai isi dunia tersebut. Disinilah kosa kata baru, model mental, rumus, dan
lain-lain dibeberkan. Seraya menjelajahi kaitan dan interaksi, baik peserta
didik maupun guru mendapatkan pemahaman baru. Dan “Dunia Kita”
diperluas, tidak hanya para peserta didik akan tetapi juga guru. Akhirnya,
dengan pengertian yang lebih luas dan dengan penguasaan lebih mendalam ini para
peserta didik dapat membawa apa yang mereka pelajari ke dalam dunia mereka dan
menerapkannya pada situasi yang baru. “Bawalah Dunia Mereka ke Dunia
Kita, dan Antarkan Dunia Kita ke Dunia Mereka”. Begitulah dinamika
manusia, dan seperti itulah asas utama Quantum Teaching.
Quantum
Teaching memiliki beberapa prinsip, diantaranya adalah:
1.
Segalanya
Berbicara
Dari sebuah
kertas yang dibagikan kepada peserta didik hingga sebuah rancangan pelajaran
yang dirancang oleh seorang guru, dari lingkungan kelas bahkan hingga bahasa
tubuh seorang guru, semuanya mengirim pesan tentang belajar.
Peserta didik
menangkap pandangan seorang guru jauh lebih cepat dan lebih akurat dari pada
menangkap apa yang akan diajarkan. Seorang guru harus berlatih untuk mengubah
pandangannya dengan membayangkan bahwa angka 10 (seperti dalam skala 1 sampai
10) tercetak dalam setiap kening peserta didik. Seorang guru harus berlatih
untuk mengubah pandangannya dengan membayangkan bahwa semua peserta didiknya
adalah anak-anak yang luar biasa. Diantara banyak guru yang bekerja, terdapat
sebuah pola interaksi antara guru dan peserta didik yang menarik namun
meresahkan. Dengan peserta didik yang memiliki kemampuan tinggi, seorang guru
cenderung banyak tersenyum, lebih banyak mengobrol dengan akrab, berbicara
dengan cara yang lebih intelektual dan penuh humor, menggunakan kosakata
kompleks, dan bertindak lebih matang. Sedangkan dengan peserta didik yang memiliki
kemampuan rendah, seorang guru cenderung berbicara lebih keras dan lebih lambat
(seolah-olah peserta didik tidak dapat mendengar) dan berinteraksi pada tingkat
lebih instruksional dan otoriter.
2.
Segalanya
Bertujuan
Semua yang
terjadi dalam penggubahan seorang guru, semuanya memiliki sebuah tujuan.
3.
Pengalaman
Sebelum Pemberian Nama
Otak manusia
berkembang pesat dengan adanya rangsangan kompleks yang akan menggerakkan rasa
ingin tahu. Oleh sebab itu, proses belajar yang paling baik adalah terjadi
ketika peserta didik telah mengalami informasi sebelum mereka memperoleh nama
untuk apa yang mereka pelajari.
4.
Akui
Setiap Usaha
Belajar
mengandung resiko, belajar berarti melangkah keluar dari kenyamanan. Pada saat
peserta didik mengambil langkah ini, mereka patut untuk mendapatkan sebuah pengakuan
atas kecakapan dan kepercayaan diri mereka.
Semua orang senang diakui. Menerima pengakuan membuat semua orang
merasa bangga, percaya diri, dan bahagia. Sebuah penelitian mendukung konsep
bahwa kemampuan peserta didik meningkat karena pengakuan guru. Untuk
mendapatkan hasil terbaik dengan peserta didik, seorang guru harus mengakui
setiap usaha yang dilakukan oleh peserta didiknya.
5.
Jika
Layak Dipelajari, maka Layak pula Dirayakan!
Perayaan adalah
sarapan bagi pelajar yang juara, perayaan memberikan umpan balik mengenai
kemajuan peserta didik dan meningkatkan asosiasi emosi positif terhadap
belajar. (Bobbi DePorter, 2003) Seorang guru layak menanamkan bibit kesuksesan
dan senantiasa menghubungkan belajar dengan sebuah perayaan. Perayaan membangun
keinginan untuk sukses. Beberapa bentuk perayaan yang menyenangkan diantaranya
adalah:
a.
Tepuk
Tangan
Salah satu
variasi tepuk tangan misalnya adalah bertepuk tangan membentuk lingkaran.
b.
Hore!
Hore! Hore!
Jika diberi
aba-aba, semua peserta didik melompat berdiri dan berteriak senyaring mungkin,
“Hore! Hore! Hore!” sambil mengayunkan tangan ke depan dan ke atas. Cara ini
akan lebih mengasyikkan apabila dilakukan secara bergelombang ke seluruh
ruangan.
c.
Wusssss
Jika diberi
aba-aba, semua peserta didik bertepuk tangan tiga kali secara serempak, lalu
mengirimkan segenap energi positif kepada orang yang dituju. Cara melakukannya
adalah setelah bertepuk, tangan mendorong ke arah orang tersebut sambil
berteriak “Wusssss”.
d.
Jentikan
Jari
Jika memerlukan
pengakuan yang tenang, bisa menggunakan jentikan jari berkesinambungan.
e.
Poster
Umum
Mengakui
individu atau seluruh kelas. Misalnya, “Kelas 3
Ngetop!”
f.
Catatan
Pribadi
Menyampaikan
secara perseorangan kepada peserta didik untuk mengakui usaha keras, sumbangan
pada kelas, perilaku atau tindakan yang baik hati.
g.
Persengkokolan
Mengakui
seseorang secara tidak terduga. Misalnya, seluruh kelas dapat bersekongkol
untuk mengakui kelas lain dengan cara memasang poster yang positif.
Model Quantum
Teaching hampir sama dengan sebuah simfoni. Jika kita melihat sebuah simfoni,
akan ada banyak unsur yang menjadi faktor pengalaman musik kita. Unsur-unsur
tersebut dapat kita bagi menjadi dua kategori, yaitu:
1.
Context
(Konteks)
Konteks adalah
latar untuk pengalaman kita. Konteks merupakan keakraban ruang orkestra itu
sendiri (lingkungan), semangat konduktor dan para pemainnya (suasana),
keseimbangan instrumen dan musisi dalam bekerjasama (landasan), dan
interpretasi sang maestro terhadap lembaran musik (rancangan). Unsur-unsur
tersebut berpadu dan kemudian menciptakan pengalaman bermusik yang menyeluruh.
Dalam menggubah
segala detail, seorang guru hendaknya menyiapkan konteks tempat peserta
didiknya belajar. Seorang guru pastinya menghendaki konteks tersebut positif, mendukung,
dan mengundang selera. Seorang guru pastinya ingin komunitas belajarnya menjadi
tempat yang meningkatkan kesadaran, daya dengar, partisipasi, umpan balik, dan
pertumbuhan. Disinilah tempat emosi dihargai. Sebuah lingkungan dimana peserta
didik dapat beranjak ke keadaan yang prima, mau bertanggungjawab, dan dapat
saling mempercayai. Sebuah tempat tanpa batas untuk mencapai apapun.
Kelas akan
dapat menjadi sebuah rumah untuk peserta didik yang tidak hanya terbuka
terhadap umpan balik, namun juga tempat pencarian. Tempat peserta didik belajar
mengakui dan mendukung orang lain, tempat mereka mengalami kegembiraan dan
kepuasan, tempat mereka memberi dan menerima, serta tempat mereka belajar dan
tumbuh.
Konteks menata
panggung belajar mempunyai empat aspek, yaitu:
a.
Suasana
Kelas
Suasana kelas
mencakup bahasa yang dipilih, cara menjalin rasa simpati dengan siswa, dan
sikap seorang guru terhadap sekolah dan belajar. Suasana yang penuh dengan
kegembiraan juga akan membawa kegembiraan dalam belajar.
b.
Landasan
Landasan adalah
kerangka kerja (tujuan, keyakinan, kesepakatan, kebijakan, prosedur, dan aturan
bersama) yang memberikan sebuah pedoman kepada seorang guru dan
peserta didiknya untuk bekerja dalam komunitas belajar.
c.
Lingkungan
Cara menata
ruang kelas (pencahayaan, warna, pengaturan meja dan kursi, tanaman, musik) dan
semua yang mendukung proses belajar.
d.
Rancangan
Rancangan
adalah penciptaan terarah unsur-unsur penting yang bisa menumbuhkan minat
peserta didik, mendalami makna, dan memperbaiki proses tukar-menukar informasi.
Jika keempat
aspek tersebut diatas ditata dengan cermat, maka suatu keajaiban akan terjadi.
Konteks itu sendiri benar-benar akan dapat menciptakan rasa saling memiliki
yang kemudian akan mampu meningkatkan rasa memiliki tersebut dan penghargaan.
Kelas akan menjadi komunitas belajar, tempat yang dituju oleh para peserta
didik dengan senang hati dan bukan dengan keterpaksaan.
2.
Content
(Isi)
Isi berbeda
dengan konteks, namun sama pentingnya dengan konteks. Lembaran musik adalah
sebagai sebuah isi, not-not yang nyata pada sebuah halaman. Salah satu unsur
isi adalah bagaimana tiap frase musik dimainkan (penyajian). Isi juga meliputi
fasilitasi ahli sang maestro terhadap orkestra, memanfaatkan bakat setiap
pemain musik, dan potensi setiap instrumen.
Keajaiban
pengalaman menjadi terbuka karena konteksnya tepat, sehingga membuat musik
menjadi hidup. Saat seorang guru menggubah kesuksesan peserta didiknya,
unsur-unsur yang sama (suasana, lingkungan, landasan, rancangan, penyajian, dan
fasilitasi) harus tersusun dengan baik.
Mengorkestrasi Perancangan Pengajaran yang Dinamis
1.
Modalitas
V-A-K
Meskipun
kebanyakan orang memiliki akses ke ketiga modalitas (visual, auditorial, dan
kinestetik), namun hampir semua orang cenderung pada salah satu modalitas
belajar. (Bandler dan Grinder, 1981) Orang tidak hanya cenderung pada satu
modalitas saja, akan tetapi mereka juga memanfaatkan kombinasi modalitas
tertentu yang dapat memberi mereka bakat dan kekurangan alami tertentu.
(Markova, 1992)
a.
Visual
Modalitas ini
mengakses citra visual yang diciptakan maupun diingat. Warna, hubungan ruang,
potret mental, dan gambar lebih ditonjolkan dalam modalitas ini. Seseorang yang
visual, ia memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
-
Teratur,
memperhatikan segala sesuatu, menjaga penampilan.
-
Mengingat
dengan gambar, lebih suka membaca dari pada dibacakan.
-
Membutuhkan
gambaran dan tujuan menyeluruh serta menangkap secara detail, mengingat apa
yang dilihat.
b.
Auditorial
Modalitas ini
mengakses segala jenis bunyi dan kata, diciptakan maupun diingat. Musik, nada,
irama, rima, dialog internal, dan suara lebih ditonjolkan dalam modalitas ini.
Seseorang yang auditorial, ia memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
-
Perhatiannya
mudah terpecah.
-
Berbicara
dengan pola berirama.
-
Belajar
dengan cara mendengarkan, menggerakkan bibir atau bersuara saat membaca.
-
Berdialog
secara internal dan eksternal.
c.
Kinestetik
Modalitas ini
mengakses segala jenis gerak dan emosi, diciptakan maupun diingat. Gerakan,
koordinasi, irama, tanggapan emosional, dan kenyamanan fisik lebih ditonjolkan
dalam modalitas ini. Seseorang yang kinestetik, ia memiliki ciri-ciri sebagai
berikut:
-
Menyentuh
orang dan berdiri berdekatan, banyak bergerak.
-
Belajar
dengan melakukan, menunjuk tulisan saat membaca, menanggapi secara fisik.
-
Mengingat
sambil berjalan dan melihat.
2.
Kerangka
Perancangan Quantum Teaching TANDUR
Apapun mata
pelajarannya, tingkat kelasnya, pendengarnya, kerangka ini menjamin peserta
didik menjadi tertarik dan berminat pada setiap pelajaran. Kerangka ini
memastikan bahwa peserta didik mengalami pembelajaran, berlatih, menjadikan isi
pelajaran nyata bagi mereka sendiri, dan mencapai sukses.
a.
Tumbuhkan
Tumbuhkan minat
belajar peserta didik dengan memuaskan rasa ingin tahu peserta didik dalam
bentuk apakah manfaat pelajaran tersebut bagi peserta didik dengan menggunakan
rumus “Apakah Manfaatnya BagiKu (AMBAK)”. Sebelum memberikan materi pelajaran
kepada peserta didik, seorang guru terlebih dahulu menjelaskan kepada peserta
didik mengenai manfaat mempelajari materi tersebut. Tujuannya adalah agar
peserta didik bertambah keingintahuannya terhadap materi tersebut dan akan
memperhatikan apa yang disampaikan oleh guru. Tahap ini merupakan tahap
menumbuhkan minat peserta didik terhadap pembelajaran yang akan dilakukan.
Melalui tahap ini, seorang guru berusaha mengikutsertakan peserta didik dalam
proses belajar. Motivasi yang kuat membuat peserta didik tertarik untuk
mengikuti seluruh rangkaian pembelajaran. Tahap ini bisa dilakukan untuk
menggali permasalahan terkait dengan materi yang akan dipelajari, menampilkan
suatu gambaran atau benda nyata, dan cerita pendek atau video.
b.
Alami
Alami merupakan
tahap ketika seorang guru menciptakan atau mendatangkan sebuah pengalaman yang
dapat dimengerti oleh semua peserta didik. Tahap ini memberikan kesempatan kepada peserta
didik untuk mengembangkan keingintahuan peserta didik. Tahap alami ini bisa
dilakukan pula dengan menggunakan pengamatan.
c.
Namai
Setelah peserta
didik melalui sebuah pengalaman belajar pada kompetensi dasar tertentu, seorang
guru mengajaknya untuk menulis di kertas dan menamai apa saja yang mereka
peroleh. Apakah informasi tersebut berupa gambar, tempat, dan sebagainya.
Kemudian guru tersebut mengajak peserta didik untuk menempelkan hasilnya di
papan tulis. Tahap menamai merupakan tahap dimana seorang guru memberikan kata
kunci, konsep, model, rumus, dan strategi atas pengalaman yang telah diperoleh
peserta didik. Pada tahap ini peserta didik berusaha untuk menemukan suatu
konsep atas pengalaman yang telah dilewati dengan bantuan seorang guru. Tahap
penamaan ini memacu struktur kognitif peserta didik untuk memberikan identitas,
menguatkan, dan mendefinisikan atas apa yang telah dialaminya. Proses penamaan
ini dibangun diatas pengetahuan awal dan keingintahuan peserta didik saat itu.
Tahap penamaan ini merupakan saat-saat yang tepat untuk mengajarkan suatu
konsep kepada peserta didik. Pemberian nama setelah adanya sebuah pengalaman akan
menjadi sesuatu yang lebih bermakna dan berkesan bagi peserta didik. Untuk
membantu dalam penamaan ini, seorang guru dapat menggunakan susunan gambar,
warna, alat bantu, kertas tulis, dan poster.
d.
Demonstrasikan
Setelah peserta
didik mengalami belajar akan sesuatu, seorang guru memberikan kesempatan kepada
peserta didik untuk mendemonstrasikan kemampuannya. Melalui pengalaman belajar,
peserta didik akan mengetahui dan mengerti bahwa mereka memiliki pengetahuan
dan informasi yang cukup memadai. Tahap demonstrasi ini memberikan kesempatan
untuk menerapkan pengetahuan ke dalam pembelajaran yang lain dan ke dalam
kehidupan peserta didik. Tahap demonstrasi ini menyediakan kesempatan kepada
peserta didik untuk menunjuk apa yang mereka ketahui. Dan pada tahap demonstrasi
ini dapat dilakukan dengan penyajian di depan kelas, permainan, menjawab
pertanyaan, dan menunjukkan hasil pekerjaan.
e.
Ulangi
Pengulangan dan
post test memperkuat daya ingat dan dapat menumbuhkan rasa “Aku tahu bahwa aku
memang tahu ini”. Pengulangan akan memperkuat koneksi saraf, sehingga
menguatkan struktur kognitif peserta didik. Semakin sering dilakukan
pengulangan, maka pengetahuan akan semakin mendalam. Hal ini dapat dilakukan
dengan cara menegaskan kembali pokok materi pelajaran ataupun memberi
kesempatan kepada peserta didik untuk mengulang pelajaran dengan temannya yang
lain maupun melalui latihan soal.
f.
Rayakan
Pengakuan untuk
penyelesaian, partisipasi, dan pemerolehan keterampilan serta ilmu pengetahuan
dapat dilakukan dengan cara memberikan tepuk tangan, bernyanyi bersama, maupun
pemberian hadiah.
3.
Kecerdasan
Berganda Bertemu SLIM-n-BIL
a.
Spasial-Visual
Spasial-Visual maksudnya
adalah berfikir dalam citra dan gambar. Melibatkan kemampuan untuk memahami
hubungan ruang dan citra mental, serta secara akurat mengerti dunia visual.
Menggambar, mensketsa, mencorat-coret, visualisasi, citra, grafik, desain,
tabel, seni, video, film, dan ilustrasi.
b.
Linguistik-Verbal
Linguistik-Verbal
maksudnya adalah berfikir dalam kata-kata. Mencakup kemahiran dalam berbahasa
untuk berbicara, menulis, membaca, menghubungkan, dan menafsirkan. Kata-kata,
berbicara, menulis, bercerita, mendengarkan, buku, kaset, dialog, diskusi,
puisi, lirik, mengeja, bahasa asing, surat, email, pidato, makalah, dan esai.
c.
Interpersonal
Interpersonal
maksudnya adalah berfikir lewat berkomunikasi dengan orang lain. Hal ini
mengacu kepada keterampilan manusia, sehingga dengan mudah dapat membaca,
berkomunikasi, dan berinteraksi dengan orang lain. Memimpin, mengorganisasi,
berinteraksi, berbagi, menyayangi, berbicara, sosialisasi, manipulasi, menjadi
pendamai, permainan kelompok, klub, teman-teman, dan kelompok kerjasama.
d.
Musikal-Ritmik
Musikal-Ritmik
maksudnya adalah berfikir dalam irama dan melodi. Gardner berkata, “Ada beberapa
peran yang dapat diambil oleh individu-individu yang cenderung musikal, dari
komposer avant-garde yang berusaha menciptakan idiom baru hingga
pendengar yang belum berpengalaman, yang mencoba memahami sajak anak-anak”.
(Gardner, 1983)
e.
Naturalis
Naturalis
maksudnya adalah berfikir dalam acuan alam, yang merupakan pendatang baru dalam
kecerdasan Gardner. Kecerdasan ini menyangkut pertalian seseorang dengan alam,
yang dapat melihat hubungan dan pola dalam dunia alamiah, mengidentifikasi dan
berinteraksi dengan proses alam. Jalan-jalan di alam terbuka, berinteraksi
dengan binatang, pengkategorian, menatap bintang, meramal cuaca, simulasi, dan penemuan.
f.
Badan-Kinestetik
Badan-Kinestetik
maksudnya adalah berfikir melalui sensasi dan gerakan fisik. Merupakan
kemampuan untuk mengendalikan dan menggunakan badan fisik dengan mudah dan
cekatan. Menari, berlari, melompat, menyentuh, menciptakan, mencoba,
mensimulasikan, merakit atau membongkar, bermain drama, permainan, dan indra
peraba.
g.
Intrapersonal
Intrapersonal
maksudnya adalah berfikir secara reflektif. Hal ini mengacu pada kesadaran
reflektif mengenai perasaan dan proses pemikiran diri sendiri. Berfikir,
meditasi, bermimpi, berdiam diri, mencanangkan tujuan, refleksi, merenung,
membuat jurnal, menilai diri sendiri, waktu menyendiri, proyek yang dirintis
sendiri, menulis, dan introspeksi diri.
h.
Logis-Matematis
Logis-Matematis
maksudnya adalah berfikir dengan penalaran. Melibatkan pemecahan masalah secara
logis dan ilmiah serta kemampuan matematis. Bereksperimen, bertanya,
menghitung, logika deduktif dan induktif, mengorganisasikan, fakta, teka-teki,
dan skenario.
Dengan
memasukkan Kecerdasan Berganda ke dalam isi dan perancangan pengajaran, seorang
guru membantu peserta didik secara otomatis mendapatkan lebih banyak makna dan
rangsangan otak dalam proses belajar mereka, sekaligus memberi mereka lebih
banyak variasi dan kesenangan, serta mengembangkan dan memperkuat kecerdasan
mereka. Namun untuk melakukan hal ini, seorang guru harus melangkah keluar dari
zona nyamannya dalam mengajar dan merancang pengajaran.
Dalam metode
pembelajaran Quantum Teaching ini terdapat Stasiun Cerdas Quantum Teaching.
Stasiun Cerdas Quantum Teaching merupakan stasiun-stasiun untuk jenis
kecerdasan yang berbeda-beda, yang merupakan salah satu cara untuk menciptakan
latihan silang. Stasiun-stasiun tersebut seharusnya ditempatkan di sekeliling
kelas untuk setiap unsur Kecerdasan Berganda. Peserta didik mengunjungi
stasiun-stasiun tersebut untuk mengasah setiap bagian kecerdasannya selama
waktu tertentu. Hal ini dapat dilakukan secara berkelompok maupun perseorangan,
di dalam maupun diluar jam pelajaran. Stasiun-stasiun tersebut dapat berupa
pengalaman mentah dari kecerdasan yang menjadi fokus, seperti:
-
Spasial-Visual
– “Pictionary” (permainan menebak gambar).
-
Linguistik-Verbal
– “Scattergories” (permainan mencari kata).
-
Interpersonal
– Kegiatan kelompok.
-
Musikal-Ritmik
– Lagu atau rap.
-
Naturalis
– Kegiatan di alam.
-
Badan-Kinestetik
– Tarian atau kegiatan.
-
Intrapersonal
– Refleksi.
-
Logis-Matematis
– Teka-teki logika.
DAFTAR PUSTAKA
Bobbi DePorter, dkk., Quantum Teaching (Mempraktekkan Quantum Learning di
Ruang-Ruang Kelas), (Bandung : PT. Mizan Pustaka, 2003)
Bobbi DePorter, Mike Hernacki, Quantum
Learning (Membiasakan Belajar Nyaman dan Menyenangkan), (Bandung :
Penerbit Kaifa, 1999)
Fuad bin Abdul Aziz Al-Syalhub, Panduan Praktis bagi Para Pendidik_Quantum Teaching
(38 Langkah Belajar Mengajar EQ Cara Nabi SAW), (Jakarta : Zikrul Hakim, 2005)
Sutrisno, Revolusi Pendidikan di Indonesia, (Yogyakarta
: Ar-Ruz, 2005)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar