Sebuah cahaya yang dulu terang benderang, kini perlahan-lahan pancaran cahaya itu mulai redup. Cahaya itu diselimuti penuh dengan kebimbangan, penuh dengan kegelisahan yang mencekam. Ia menyimpan sebuah ketakutan yang sangat luar biasa. Ia di gerogoti dengan ketakutan jika suatu saat nanti pancaran cahayanya tiba-tiba akan padam dan ia tidak akan mampu untuk memancarkan cahayanya kembali. Akan tetapi.. Dengan tekad yang kuat dan penuh dengan keyakinan, cahaya itu mulai memberanikan diri untuk bangkit dan ia tidak ingin padam. Karena ia ingin setiap saat pancaran cahayanya akan selalu mampu untuk menyinari orang-orang di sekelilingnya.
Aku yakin, tidak ada kata tidak bisa jika kita berani untuk berubah. Berani berubah dari kehidupan lalu yang mungkin penuh dengan berbagai masalah, sehingga terkadang membuat semangat menjadi padam. Berani untuk mulai merancang dan menyambut masa depan yang jauh lebih bersinar. Semua itu cukup hanya dengan satu alasan, yaitu kedua orang tua.. Ibu dan ayah.. Seorang ibu yang dengan ketulusan serta keikhlasannya telah mengandung selama 9 bulan 10 hari, melahirkan, dan merawat serta membesarkanku dengan penuh peluh, tetesan air mata, dan ribuan untaian kasih sayang. Seorang ayah yang selalu bekerja keras tanpa rasa lelah dan tanpa rasa mengeluh hanya untuk mencari nafkah, seorang ayah yang selalu memikirkan agar anak-anaknya kelak mendapatkan pendidikan yang tinggi. Seorang ibu dan ayah yang senantiasa menyebut namaku dalam do’a ketika beliau berdua besujud kepada-Nya. Ingin rasanya aku mengajak kedua orang tuaku duduk bersama dalam keheningan serta gelap sunyinya malam dan dalam hembusan angin yang membuat tubuh setiap orang dapat bergetar, ingin rasanya aku membawakan sebuah baskom dengan berisi air panas untuk keduanya. Ingin rasanya perlahan-lahan aku mulai mengusap dan membersihkan telapak kaki keduanya. Selama ini aku masih sangat jauh dari kata mampu untuk membuat kedua orang tuaku tersenyum bahagia, dan mungkin tidak akan pernah mampu untuk membalas semua pengorbanan yang telah kedua orang tuaku lakukan dan berikan kepadaku.
Setelah selesai menempuh Ujian
Nasional di jenjang Madrasah Tsanawiyah Muhammadiyah, Wonosari aku mengisi
setiap detik nafas dan waktu dengan selalu berikhtiyar dan berdo’a kepada Allah
SWT. Berharap agar aku dapat meraih dan mengenggam kelulusan dengan nilai yang terbaik.
Selang waktu.. Sembari menunggu pengumuman kelulusan, aku mulai memutar otak
untuk berfikir dan terus berfikir. Kemana nantinya aku akan menapakkan
pendidikan di jenjang selanjutnya, tentunya di jenjang yang jauh lebih tinggi.
Karena pergaulan di zaman sekarang, menuntutku untuk selalu berusaha agar aku bisa
mencari dan mendapatkan sosok seorang teman serta lingkungan yang baik. Karena
bagaimanapun juga, bagiku yang namanya sosok seorang teman tetap akan membawa
pengaruh dalam kehidupan. Alhamdulillah.. Berkat jerih payah, usaha, dan do’a,
serta luapan ridho dari Allah SWT, aku dapat meraih dan menggengam kelulusan
serta menuntaskan jenjang pendidikan di Madrasah Tsanawiyah Muhammadiyah,
Wonosari dengan nilai yang cukup membanggakan. Akan tetapi perjuanganku tidak
hanya cukup sampai disini, perjuanganku masih sangat terbentang panjang. Dan
mungkin terkadang suatu saat nanti pasti akan ada liku-liku terjal dalam roda
kehidupan selanjutnya yang akan datang silih berganti menghampiriku. Tinggal
bagaimana aku merubah liku-liku terjal itu menjadi sebuah likuan indah yang
akan menjadi jalan dalam proses meraih kesuksesan.
Kedua orang tua, pasti akan merasa
bahagia dan bangga jika suatu saat nanti dapat melihat anak-anaknya berhasil.
Berhasil bukan karena anaknya menjadi orang yang banyak disegani oleh orang
lain dengan kesuksesan yang di perolehnya, tetapi bahagia dan bangga jika
anak-anaknya kelak dapat menjadi seorang anak yang sholehah serta dapat berguna
bagi bangsa dan negara, terutama berguna bagi agama. Aku selalu berdo’a dan
meminta kepada sang Maha Pemilik Sempurna agar kelak aku dapat menjadi seorang
anak yang sholehah. Yang senantiasa mampu mendo’akan kedua orang tua dan
keluarga, yang senantiasa mampu memberi manfaat kepada orang lain. “Nyuwun karo gusti Allah, kabeh tak
dongakke. Mbesuk nak simbahmu wis do ra ono, kirimono dongo yo nok. Dadi o
bocah wedhok sing sholehah, bocah wedhok sing sholehah iku larang regane”. Itulah sebongkah kata-kata yang sangat mendalam
untukku, dari nenek tercinta yang selalu aku ingat dan selalu aku resapi setiap
saat. Kedewasaan seseorang itu pasti selamanya tidak hanya akan membeku seperti
bongkahan es, tetapi ada saatnya dimana bongkahan-bongkahan es itu akan mencair
menjadi butiran-butiran air yang siap untuk memberikan kesejukan kepada alam.
Ada saatnya dimana lajur kedewasaan seseorang itu akan berubah. Dan umur
bukanlah menjadi patokan dari kedewasaan seseorang. Karena tidak jarang, terkadang
seseorang yang mempunyai umur lebih muda dari kita justru mereka dapat berfikir
secara dewasa. Tetapi terkadang banyak orang yang tidak mempercayainya dan juga
tidak menghargainya. Dan ketika itu, aku memutuskan untuk melanjutkan jenjang
pendidikan di Madrasah Aliyah Negeri, Wonosari. Madrasah Aliyah Negeri,
Wonosari adalah pilihan yang sangat tepat untukku, karena aku berharap di
tempat itulah aku akan mendapatkan pendidikan agama yang jauh lebih dalam dan
tentunya jauh lebih luas lagi. Aku tidak hanya sekedar ingin mengenggam dunia, tetapi
aku juga ingin mengenggam akhirat dengan sebuah genggaman yang sangat erat.
Karena bagaimanapun juga, sebuah ilmu pengetahuan jika tidak di imbangi dengan
ilmu agama maka akan menjadi kepribadian yang terpecah. Syukur alhamdulillah,
aku panjatkan kepada Allah SWT yang semua makhluk di bumi maupun di langit
bersujud dan bertasbih kepada-Nya. Karena aku diberikan sebuah kesempatan untuk
bisa masuk dan diterima di Madrasah Aliyah Negeri, Wonosari.
Di dalam secercah kertas putih
inilah, aku mulai mengambil pena dan memberanikan diri untuk mulai menulis bait
demi bait pengalaman berharga yang telah aku dapatkan di saat aku menempuh
jenjang pendidikan di Madrasah Aliyah Negeri, Wonosari. Hingga pada akhirnya
tinta pena ini mulai menembus dan menghiasi secercah kertas yang tadinya putih
menjadi hiasan-hiasan buaian cerita yang penuh makna untukku. Nabi Muhammad SAW
adalah sosok seorang Nabi dan Rasul yang sangat luar biasa, yang tiada pernah
berhenti dalam menyebarkan dakwah. Yang senantiasa menebarkan mutiara-mutiara
berkah kepada umatnya. Sudah sepantasnya beliau menjadi inisiator terbaik dalam
hidup ini. Mencintai dan merindukannya adalah sebuah anugerah terindah, dan
pasti sudah menjadi impian seluruh umat di dunia ini jika kelak bisa bertemu
dengan kekasih Allah SWT tersebut. Dan semenjak berada di Madrasah Aliyah
Negeri, Wonosari inilah aku dapat merasakan manis serta pahitnya dalam terjun berdakwah
secara langsung kepada masyarakat. Sebuah program yang sangat mulia, perlahan
mulai menarik keinginan yang bergejolak di dalam hatiku dan mulai menuntunku untuk
melaksanakan segenap tugas makhluk. Menjadi seorang ustadzah TPA (Taman
Pendidikan Al-Qur’an), bagiku adalah sebuah kesempatan yang sangat luar biasa .
Walaupun bagiku sebuah amanah itu sangat berat, akan tetapi aku mencoba
memberanikan diri untuk menjalankan dan melaksanakannya dengan sebaik-baiknya.
Dan dari tugas itulah aku di tuntut untuk berdakwah, tetapi aku menyadari bahwa
sebelum aku berdakwah kepada orang lain aku harus mampu mendakwahi diri aku
sendiri. Di dalam sebuah TPA (Taman Pendidikan Al-Qur’an) inilah aku dapat
menjadi seorang pengajar dan juga seorang pembelajar. Dalam belajar di Madrasah
Aliyah Negeri, Wonosari ini aku telah mendapatkan beribu-ribu ilmu yang sangat bermanfaat
dan tentunya sangat bermakna. Dan aku selalu mencoba untuk terus berusaha agar
aku dapat mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari serta dapat mengamalkan
ilmu-ilmu yang telah aku dapatkan tersebut. Santriwan-santriwati di dalam TPA
(Taman Pendidikan Al-Qur’an) juga telah banyak memberikan pelajaran-pelajaran
yang sangat bermakna untukku. Dari santriwan-santriwati itulah aku dapat
mengerti bertapa indahnya sebuah ukhuwah, betapa pentingnya menjalin silaturrahmi.
Dan dari santriwan-santriwati itulah aku di tuntut untuk selalu bersabar dan
selalu mampu berfikir bagaimana caranya agar aku dapat membentuk dan
menghasilkan santriwan-santriwati yang berakhlak mulia, cakap, percaya diri,
dan berguna bagi masyarakat. Bagaimana caranya agar aku dapat menanamkan
nilai-nilai kejujuran, keberanian, kesetiaan, ketulusan, dan sikap positif
lainnya kepada santriwan-santriwati. Serta dapat memberikan pengetahuan tentang
nilai-nilai moral. Karakter antara santriwan-santriwati yang satu dengan yang
lainnya memang bervariasi dan berbeda-beda. Tetapi itu semua tidak menyurutkan semangatku
untuk terus mendidik dan menuntun mereka dalam mempelajari iqra’ dan Al-Qur’an.
Alhamdulillah, aku sangat bersyukur. Karena mereka sangat bersemangat untuk mempelajari
ayat-ayat Allah SWT, dan aku pun menjadi lebih bersemangat untuk terus
membangkitkan semangat generasi muda muslim. Tentunya bersemangat untuk
mengembangkan pemikiran, mengembangkan keluwesan dan kefasihan
santriwan-santriwati dalam melantunkan ayat-ayat Al-Qur’an. Ayat demi ayat
mereka lantunkan, dan terkadang santriwan-santriwati itu tidak jarang banyak
yang melakukan kesalahan. Tetapi semangat mereka tetap berkobar, seperti
kobaran api yang membara. Yang tentunya akan sangat sulit jika hanya di
padamkan dengan setetes air yang mengembun. Sama sekali tidak ada perasaan
mengeluh dalam diri mereka.
Ada beberapa santriwan-santriwati yang
menarik perhatian dan membuka lebih jauh kepekaan dalam hati aku. Seorang santriwati
yang mungkin sudah mempunyai umur yang jauh lebih tua dariku, tetapi ia sama
sekali tidak pernah canggung dan sedikitpun tidak merasa malu dalam berbaur
bersama santriwan-santriwati yang lainnya. Walaupun ia tahu bahwa ia mempunyai
jarak umur yang cukup jauh dari santriwan-santriwati yang lainnya. Semua
santriwan-santriwati bergiliran untuk mengaji kepada ustadz dan ustadzah,
berjejer ke belakang seperti rentetan kereta yang mempunyai banyak gerbong. Dan
akhirnya santriwati yang menarik perhatian dan membuka lebih jauh kepekaan
dalam hati aku itu mendapat giliran untuk mengaji. Ketika aku dengan tidak
sengaja mengarahkan pandangan mataku dan dengan tidak sengaja menatapnya, ia
seperti tidak berani menatapku dan justru ia mengarahkan pandangannya ke arah
yang lain. Suara yang sangat kecil dan pendiam. Itulah yang aku tahu darinya
ketika ia mulai membaca dan melantunkan iqra’nya. Dan subhanallah.. Dari awal
sampai akhir ia sama sekali tidak memiliki kesalahan dalam membaca dan melantunkan
iqra’ tersebut. Tetapi di dalam hati aku semakin bertanya-tanya, sebenarnya ada
apa dengan ia?
Setelah beberapa hari aku menjadi
ustadzah TPA (Taman Pendidikan Al-Qur’an) di tempat tersebut. Dan juga
beribu-ribu pertanyaan tentang santriwati yang mempunyai suara yang sangat
kecil dan pendiam itu belum terjawab, sudah muncul lagi seorang santriwati yang
membuat aku terheran. Santriwati itu duduk di bangku kelas III Sekolah Dasar,
ia membuatku geli dan selalu tertawa dengan tingkah lakunya yang mungkin lucu
dan mungkin seperti sebuah teka-teki (sangat susah untuk di tebak). Dalam
proses mengaji, semua santriwan-santriwati mengarahkan pandangan serta
memperhatikan pelajaran apa yang telah di sampaikan oleh ustadz dan ustadzah.
Tetapi berbeda dengan santriwati yang duduk di bangku kelas III Sekolah Dasar
tersebut. Ia seperti memperhatikan, tetapi aku tahu bahwa sebenarnya ia tidak bersungguh-sungguh
memperhatikan. Karena ketika semua santriwan-santriwati sedang memperhatikan
pelajaran yang diberikan oleh ustadz dan ustadzah, justru ia malah sibuk dengan
tingkah lakunya yang mungkin aneh menurutku. Diam-diam tangannya mulai berjalan
perlahan-lahan mendekati kedua telapak kakiku yang terbungkus oleh sebuah kaos
kaki berwarna coklat muda. Ia kemudian bermain dan menggelitiki kakiku dengan
penuh canda tawa. Aku pun juga ikut tertawa di buatnya. Aku sempat berfikir,
kenapa ia melakukan hal yang aneh seperti itu? Kenapa ia seolah-olah ingin
selalu mengajakku untuk bermain dan tertawa bersama?
Tidak terasa 2 minggu menjalankan
dan melaksanakan tugas sebagai ustadzah TPA (Taman Pendidikan Al-Qur’an) akan
segera berakhir. Dan di saat-saat terakhir itulah aku mulai menemukan segenap
jawaban atas semua pertanyaan-pertanyaanku yang masih mengganjal, sejak aku
mengerti dan mengenal 2 santriwati yang menurutku sangat luar biasa. Ada salah seorang
santriwati yang datang menghampiriku untuk sedikit berbagi cerita denganku,
untuk sedikit memberi warna dalam anganku. Aku sedikitpun tidak pernah mengira
dan membayangkan dalam benakku bahwa santriwati yang mempunyai suara yang
sangat kecil dan pendiam, ternyata ia mempunyai kehidupan lalu yang sangat suram
dan mungkin menakutkan untuk dirinya. Ia menjadi pribadi yang sangat pendiam
seperti itu bukanlah tanpa sebab. Tetapi mungkin ia merasa tertekan atas apa
yang telah dilakukan oleh kedua orang tuanya. Ia mendapatkan kekerasan dari
kedua orang tuanya sehingga ia menjadi pribadi yang seperti itu. Aku belum bisa
dan mungkin tidak akan pernah bisa mengerti serta tidak akan pernah bisa
memahami dengan semua cerita salah seorang santriwati mengenai sekilas tentang
dirinya. Tetapi aku berdo’a semoga Allah SWT selalu memberikan kehidupan yang
jauh lebih baik lagi untuknya. Dan aku juga yakin bahwa Allah SWT pasti akan
memberikan sebuah jalan yang terbaik untuknya. Dan lagi-lagi aku mendapatkan
pelajaran yang sangat berharga dari kejadian ini. Bagaimanapun keadaan
seseorang, seburuk dan seindah apapun masa lalu yang telah dihadapinya, sesulit
dan semudah apapun kehidupan yang akan di jalaninya. Ia tetap selalu mampu
bersyukur, ia tetap selalu mampu mensyukuri segala nikmat yang telah Allah SWT
berikan kepadanya. Dan ia mengaplikasikan tanda syukur itu dengan cara
terus-menerus mempelajari ayat-ayat Allah SWT dan ia tidak pernah berhenti untuk
selalu mendekatkan diri serta mempunyai keinginan yang besar untuk lebih mengenal
Dzat yang menciptakannya. Subhanallah.. Seorang santriwati yang diberikan ujian
dan cobaan oleh Allah SWT dalam bentuk seperti itu saja masih mampu untuk
selalu bersyukur. Lantas bagaimana dengan kita semua? Apakah kita semua sudah
senantiasa selalu bersyukur kepada-Nya? Allah SWT telah membukakan pintu
kemudahan yang selebar-lebarnya kepada kita semua, kita semua yang telah
diberikan oleh Allah SWT kehidupan yang jauh lebih baik dan jauh lebih indah
seharusnya harus senantiasa selalu bersyukur dan mendekatkan diri kepada-Nya.
Dan akhirnya, tibalah saatnya dimana
aku harus memaksakan diri untuk berbicara di hadapan santriwan-santriwati
tersebut. Berbicara dengan maksud dan tujuan untuk berpamitan, karena masa
tugas yang telah di bebankan kepadaku telah habis. Jika semua dapat dirubah,
mungkin aku akan meminta perpanjangan masa tugasku menjadi ustadzah TPA (Taman
Pendidikan Al-Qur’an) di tempat tersebut. Karena aku merasa bahwa aku belum
sepenuhnya bisa memberi manfaat dan sesuatu yang bermakna untuk
santriwan-santriwati serta seluruh masyarakat yang ada di sekitarnya.
Ustadz ustadzah dan semua santriwan-santriwati melantunkan sebuah sholawat, dimana mereka semua juga bersalaman secara bergantian. Tiba-tiba aku melihat seorang santriwati yang duduk di bangku kelas III Sekolah Dasar, yang selalu membuat aku tertawa dengan tingkah lakunya itu mengulurkan tangannya kepadaku. Aku pun mengambil tangannya, dan ia kemudian mencium tanganku. Tetapi ketika itu ada setetes air mata yang tertinggal di telapak tanganku. Aku kemudian mengajaknya mundur ke belakang, aku menatapnya. Ternyata telah ada butiran-butiran air di kelopak matanya. Dan aku mulai memberanikan diri untuk bertanya kepadanya. “Adik kenapa menangis?”. “Aku tidak apa-apa mbak..” jawabnya lirih. Bukankah ini hanya sebuah simbol perpisahan antara ustadzah dan santriwan-santriwatinya? Bukankah di luar perpisahan ini silaturrahmi antara ustadzah dan santriwan-santriwatinya tetap harus dijaga? Lantas untuk apa ia menangis? Seketika itupun aku langsung memeluknya dalam dekapan tubuhku, dan justru ia semakin mengeraskan suara tangisannya. Perlahan aku mulai menenangkan dan mengajaknya berbicara, tetapi ia tetap menangis. Hingga pada akhirnya telah mendekati waktu berbuka puasa, dan ia pun pergi berkumpul bersama dengan santriwan-santriwati yang lainnya. Ketika beranjak keluar dari tempat itu, aku masih melihat matanya berbinar-binar. Aku masih melihat ia meneteskan air matanya. Dan tanpa sempat berfikir aku pun langsung menghampirinya. Ia tidak berani menatapku, akan tetapi setelah adzan maghrib berkumandang ia terhenti dari tangisannya. Aku pun segera bergegas untuk bersiap-siap berbuka puasa. Ketika itu, tiba-tiba ada seorang ibu dengan rambutnya yang diikat ke belakang menghampiriku dan berkata , “Adik e nangis mungkin kroso nak bakal jenengan tinggal mbak. Mungkin kelingan kalih mbak e sing sampun sedo, masalah e mbak e mirip kalih jenengan”. Dan seketika itu pula, ingin rasanya aku berlari sejauh mungkin dan berharap akan terbawa hembusan angin yang sangat kencang. Ya rabbi.. Begitu besar ketulusan dan keikhlasan seorang santriwati kecil itu dalam menyayangi dan selalu membuatku tersenyum. Walaupun aku, ia, dan bahkan dunia tahu bahwa aku adalah “aku” dan bukan kakak dari santriwati kecil itu.
Ustadz ustadzah dan semua santriwan-santriwati melantunkan sebuah sholawat, dimana mereka semua juga bersalaman secara bergantian. Tiba-tiba aku melihat seorang santriwati yang duduk di bangku kelas III Sekolah Dasar, yang selalu membuat aku tertawa dengan tingkah lakunya itu mengulurkan tangannya kepadaku. Aku pun mengambil tangannya, dan ia kemudian mencium tanganku. Tetapi ketika itu ada setetes air mata yang tertinggal di telapak tanganku. Aku kemudian mengajaknya mundur ke belakang, aku menatapnya. Ternyata telah ada butiran-butiran air di kelopak matanya. Dan aku mulai memberanikan diri untuk bertanya kepadanya. “Adik kenapa menangis?”. “Aku tidak apa-apa mbak..” jawabnya lirih. Bukankah ini hanya sebuah simbol perpisahan antara ustadzah dan santriwan-santriwatinya? Bukankah di luar perpisahan ini silaturrahmi antara ustadzah dan santriwan-santriwatinya tetap harus dijaga? Lantas untuk apa ia menangis? Seketika itupun aku langsung memeluknya dalam dekapan tubuhku, dan justru ia semakin mengeraskan suara tangisannya. Perlahan aku mulai menenangkan dan mengajaknya berbicara, tetapi ia tetap menangis. Hingga pada akhirnya telah mendekati waktu berbuka puasa, dan ia pun pergi berkumpul bersama dengan santriwan-santriwati yang lainnya. Ketika beranjak keluar dari tempat itu, aku masih melihat matanya berbinar-binar. Aku masih melihat ia meneteskan air matanya. Dan tanpa sempat berfikir aku pun langsung menghampirinya. Ia tidak berani menatapku, akan tetapi setelah adzan maghrib berkumandang ia terhenti dari tangisannya. Aku pun segera bergegas untuk bersiap-siap berbuka puasa. Ketika itu, tiba-tiba ada seorang ibu dengan rambutnya yang diikat ke belakang menghampiriku dan berkata , “Adik e nangis mungkin kroso nak bakal jenengan tinggal mbak. Mungkin kelingan kalih mbak e sing sampun sedo, masalah e mbak e mirip kalih jenengan”. Dan seketika itu pula, ingin rasanya aku berlari sejauh mungkin dan berharap akan terbawa hembusan angin yang sangat kencang. Ya rabbi.. Begitu besar ketulusan dan keikhlasan seorang santriwati kecil itu dalam menyayangi dan selalu membuatku tersenyum. Walaupun aku, ia, dan bahkan dunia tahu bahwa aku adalah “aku” dan bukan kakak dari santriwati kecil itu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar